Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


“Takwa adalah kamu
mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, kamu
mengharapkan rahmat Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah
berdasarkan cahaya dari Allah, serta kamu takut azab Allah.”
Demikianlah seharusnya
yang selalu ada dan tumbuh dalam benak dan hati setiap Muslim, sehingga akan
membawa dampak dan bekas yang baik, melahirkan pribadi-pribadi yang istiqamah
dan (konsisten)
Sebenarnya yang menjadi
pangkal utama sehingga seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan
memperoleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta selamat dari
azab-Nya pada hari kiamat kelak adalah sejauh mana dia dapat menjaga dan
memelihara hatinya sehingga selalu condong dan mempunyai ketergantungan hanya
kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya dzat yang
selalu membolak-balikkan hati setiap hambaNya sesuai dengan kehendak-Nya, dan
bukan justru sebaliknya, Karena pada dasarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak
akan melihat ketampanan dan kecantikan wajah kita, namun Allah Subhanahu
wa Ta’ala hanya akan melihat hati-hati kita dan amal perbuatan kita.
Manakala hati seseorang bersih, maka akan membawa dampak kepada kebaikan
seluruh anggota tubuhnya, begitu sebaliknya jika hati seseorang telah rusak,
maka rusaklah seluruh anggota tubuhnya, sebagaimana hal ini pernah diisyaratkan
oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, 1/20.
“Ketahuilah,
sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah
seluruh anggota tubuh dan jika rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh.
Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. al-Bukhari).
hati mempunyai peranan
yang sangat fital dalam diri seseorang dan menjadi sentral bagi anggota tubuh
lainnya sehingga keberadaannyalah yang dapat menentukan baik buruk dan hitam
putihnya seluruh amalan dan aspek kehidupan seorang muslim.
kalau kita perhatikan
kondisi kebanyakan saat ini, bahwa tolak ukur kebahagiaan seseorang sekedar
dengan penampilan lahiriyah dan materi belaka, sehingga mereka sibuk dengan
kehidupan dunianya, memperkaya diri, memperindah dan mempercantik diri dengan
berbagai macam bentuk keindahan dunia, namun pada saat yang sama, mereka lalai
dan lupa dengan keindahan, kebersihan, serta kesucian batin yang pada akhirnya
justru dapat menyelamatkan mereka; baik di dunia maupun di akhirat kelak.,
sebagaimana Firman-Nya :
وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّن قَرْنٍ هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِءْيًا
“Berapa banyak umat
yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat
rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata.” (Maryam: 74).
Jamaah shalat
Jumat rahimakumullah
Sesungguhnya perkara
hati merupakan perkara agung dan kedudukannya pun sangat mulia, sehingga
Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan kitab-kitab suci-Nya
untuk memperbaiki hati, dan Dia utus para Rasul untuk menyucikan hati,
membersihkan, dan memperindahnya.
Ajaran yang paling besar
yang dibawa oleh Rasulullah adalah memperbaiki hati. Maka tidak ada cara untuk
menyucikan dan memperbaiki hati kecuali cara yang telah ditempuh oleh beliau.
Dengan demikian seseorang akan memahami bahwa hatinya merupakan tempat bagi
cahaya dan petunjuk AllahSubhanahu wa Ta’ala, yang dengannya seseorang
dapat mengenal Rabbnya, mengenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya,
Al-Imam Ibnu Qayyim
al-Jauziyah menuturkan di dalam salah satu kitab beliau, “Hati yang sehat,
yaitu hati yang selalu terjaga dari syirik, sifat dengki, iri hati, kikir,
takabur, cinta dunia dan jabatan. Ia terbebas dari semua penyakit yang akan
menjauhkannya dari Allah. Ia selamat dari setiap syubhat yang menghadangnya. Ia
terhindar dari intaian syahwat yang menentang jati dirinya, dan ia terbebas
dari segala keinginan. Ia akan terbebas dari segala penghambat yang akan
menghalanginya dari jalan Allah. Inilah hati yang sehat di surga dunia dan
surga di alam kubur, serta surga di Hari Kiamat.
Ibnu Rajab al-Hanbali
pernah berkata, “Keutamaan itu tidak akan diraih dengan banyaknya amal jasmani,
akan tetapi diraih dengan ketulusan niat kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala benar, lagi sesuai dengan sunnah Nabi dan dengan banyaknya
pengetahuan dan amalan hati.” Ini semua menunjukkan bahwa dasar keimanan atau
kekufuran, hidayah atau kesesatan, keberuntungan atau kenistaan tergantung pada
apa yang tertanam di dalam hati seorang hamba.
Abu Hurairah pernah
menuturkan, bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:
إِنَّ الله لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ
وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ، وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى
صَدْرِهِ.
“Sesungguhnya Allah
tidak melihat kepada jasadmu, dan tidak pula kepada bentukmu, akan tetapi Dia
melihat kepada hati kamu, kemudian menunjuk ke dadanya dengan telunjuknya.”
(HR. Muslim, no. 2564).
Bahkan, mayoritas ulama
berkeyakinan bahwa siapa saja yang dipaksa untuk menyatakan “kekufuran”, maka
ia tidak berdosa selagi hatinya masih tetap teguh beriman kepada Islam dan
tetap dalam kondisi tenang beriman, sebagaimana FirmanNya :
مَ “Barangsiapa yang kafir kepada
Allah sesudah dia beriman (maka dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang
yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka dia tidak
ber-dosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka
kemurkaan Allah menimpanya dan dia mendapat azab yang besar. Yang demikian itu
disebabkan karena mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya
Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (An-Nahl: 106-107).
Ayat ini diturunkan,
sebagaimana pendapat mayoritas ahli tafsir adalah berkenaan dengan kejadian
yang menimpa Ammar bin Yasir, manakalah ia masuk Islam, ia mendapat siksaan dari
orang-orang kafir Quraisy di Makkah sehingga ia mau mengucapkan kalimat
kekufuran kepada Allah dan cacian kepada Nabi Muhammad sallallahu
‘alaihi wa sallam. Di lain kesempatan peristiwa tersebut ia laporkan kepada
Rasu-lullah sambil menangis.
قَالَ: كَيْفَ تَجِدُ قَلْبَكَ؟ قَالَ: مُطْمَئِنًّا بِالْإِيْمَانِ. قَالَ:
إِنْ عَادُوْا فَعُدْ.
“… maka Nabi bersabda,
‘Bagaimana kondisi hatimu?’ Ia menjawab, ‘Aku masih tenang dalam beriman.’ Maka
Nabi bersabda (untuk menggembirakannya dan memberinya kemudahan), ‘Kalau mereka
kembali menyiksa, maka silahkan lakukan lagi’.” (HR. al-Hakim, 2:357).
Di dalam sebuah hadits
yang lain, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang bersumber dari Anas
bin Malik,
لَا يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ.
“Iman seseorang tidak
akan lurus (benar) sebelum hatinya lurus.” (HR. Ahmad, no. 13079).
Demikian agungnya
keutamaan dan urgensi hati seseorang di hadapan Allah Subhanahu wa
Ta’ala, sehingga kita dapat mengetahui kebanyakan sumpah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam diucapkan dengan ungkapan,
لَا، وَمُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ.
“Tidak, demi Dzat
yang membolak-balikkan hati.”
Dan di antara doa beliau
adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.
“Ya Allah, Dzat
yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”
Hal yang demikian,
karena pada dasarnya kadangkala hati seseorang bisa mengeras, seperti batu atau
bahkan lebih keras dari itu, sehingga ia akan jauh dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala, rahmatNya, dan dari ketaatan-Nya. Dan sejauh-jauh hati dari
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hati yang kasar, di mana
peringatan tidak lagi bermanfaat baginya, nasihat tidak dapat menjadikan dia
lembut, perkataan tidak menjadikannya berilmu, sehingga seseorang yang memiliki
hati yang demikian di dalam dadanya, maka hatinya tidak memberikan manfaat
apa-apa baginya, dan tidak akan melahirkan sesuatu pun, kecuali kejahatan.
Sebaliknya hati yang lembut, yang takut dan tunduk merendahkan diri terhadap
Penciptanya, AllahSubhanahu wa Ta’ala, serta selalu mendekatkan diri
kepada-Nya, mengharapkan rahmatNya dan menjaga ketaatan-Nya, maka pemiliknya
akan mempunyai hati yang bersih, selalu menerima kebaikan.
Dengan demikian, marilah kita
bersungguh-sungguh dalam menjaga hati dan senantiasa mengawasinya, di mana dan
kapan saja waktunya, karena ia satu-satunya anggota tubuh kita yang paling
besar bahayanya, paling mudah pengaruhnya, dan paling sulit mengurus dan
memperbaikinya. Wallahul musta’an.
., .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar