Sabtu, 30 April 2016

BELAJAR MENJADI PEMIMPIN AMANAH




BELAJAR MENJADI PEMIMPIN AMANAH


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
 http://cerdasmulia.net/wp-content/uploads/2015/08/Belajar-Menjadi-Seorang-Pemimpin-yang-Bijaksana.jpg
Ada 5 hal yang perlu mendapat perhatian seksama dalam menggayuh derajad syukur, yg sekaligus peningkatan ibadah, iman dan taqwa, maupun peningkatan kualitas berbagai macam bentuk laku dalam mendekat kepada-Nya.
Pertama, instropeksi mendalam atas amanah tanggungjawab yang diemban saat ini. Mulai dari niatan awal, proses pelaksanaan, berbagai bentuk keterkaitannya baik yg individual struktural maupun sosial, maupun segala bentuk akibat dan efek lanjutnya. Yang semula niatannya karena tuntutan kebutuhan, tuntutan profesi, duniawi, keluarga dan semacamnya, hendaknya diluruskan dengan niatan ibadah. Prosesnya pun juga demikian, perlu dikoreksi dan kajian mendalam. Terlebih dengan berbagai bentuk keterkaitan langsung tdk langsung, maupun berbagai akibat dan efek lanjutnya, yang biasanya kurang mendapat perhatian yg seksama, perlu lebih didalami keseriusannya dan kekhusyukannya. Sebab, itu semua merupakan perintah Allah, yg sekaligus mampu mengantar pelakunya menuju surga Firdaus yang Dia janjikan. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Mukminuun: 8-11 (ayat muka) : ”Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara ibadah sembahyangnya. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mukminuun: 8-11)
Hal kedua yg perlu mendapat perhatian seksama adalah menyadari bahwa setiap diri adalah pemimpin yang sekaligus pendidik. Mungkin saja saat ini memang belum menjadi pemimpin dan pendidik, masih menjadi anggota ataupun obyek didik. Tetapi pada dasarnya, saat ini pun, setiap diri merupakan pemimpin dan pendidik, khususnya bagi diri sendiri. Dan pada saatnya nanti, pasti akan menjadi pemimpin dan pendidik pada suatu unit tertentu. Minimal pendidik bagi keluarganya. Karena itu perlu kesadaran, pemahaman, dan penghayatan yang mendasar sedini mungkin. Selanjutnya perlu langkah konkrit yang berupa pelatihan, pembelajaran, pengkaderan, sampai penugasan, menuju kemantapan keyakinan bahwa jiwa raga ini adalah pemimpin dan pendidik. Dan yang pasti, semua jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas proses pelaksanaan yg telah dilakukannya sebagai pemimpin dan pendidik. Sebagaimana sabda Nabi SAW: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. (رواه البخارى) ”Kamu sekalian adalah pemimpin, maka akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan yang telah dilakukan.
Ketiga, belajar tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal batas. Belajar sepanjang hayat, long live education. Memenuhi sabda Nabi Saw, belajar semenjak ayunan hingga liang lahat. أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ Belajar semenjak dari ayunan nampaknya memang mustahil. Karena itu, ia mesti dilakukan oleh orang lain atau orang tua. Kita menjadi seperti ini, karena dulunya telah dididik dan dibelajari orang tua. Karena itu perlu memberikan tongkat estafet pendidikan pembelajaran kepada anak2 kita. Bahkan semenjak masih dalam kandungan, proses pendidikan sudah bisa dilakukan. Atau setidaknya memahami bahwa pendidikan sepanjang hayat itu harus kita lakukan, baik untuk diri pribadi maupun untuk orang lain dan generasi kita kedepannya. Sebab, bila yang terjadi sebaliknya, ketika melahirkan generasi yg bodoh, maka dosa akibat kebodohan tersebut ikut ditanggung generasi sebelumnya, khususnya orang tuanya. Sebagaimana sabda Nabi Saw: وَمَنْ تَرَكَ وَلَدَهُ جَاهِلاً كَانَ كُلُّ ذَنْبٍ عَمِلَهُ وَعَلَيْهِ. “Barangsiapa yang meninggalkan anaknya menjadi orang bodoh, maka dia akan menanggung juga dosanya dihadapan Allah”.
Keempat, menerima dan mensyukuri segala bentuk panduming Gusti atau nrimo ing pandum. Pandum yang menyenangkan ataupun yang menyusahkan diterima dengan rasa syukur lapang dada. Menyadari bahwa Allah-lah yg telah mengaturnya. Ada rahasia besar yg telah Dia siapkan bagi hamba-Nya. Walaupun nampaknya terkena musibah, tapi dibalik itu ada hikmah yg luar biasa besar dibalik sengsaranya musibah. Begitupun ketika diberi pandum rezeki berlimpah, bersyukurnya lebih ditingkatkan. Amal dan ibadahnya pun juga ditingkatkan.
Kelima, optimis kepada Allah dibarengi ikhtiar dan tawakkal. Optimis bahwa Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya yang berimannya ma’rifatun wa tashdiwun. Allah itu tergantung pada prasangka hamba-Nya. Namun demikian, baik sangka tersebut perlu dibarengi dg usaha dan kerja keras. Usaha yg ringan, hasilnya pun sedikit. Usaha yg besar hasilnya besar pula. Tak ubahnya filosofi memancing, bila ingin mendapatkan ikan yg besar, maka umpannya pun harus besar. Setelah melakukan ikhtiar pada tempatnya, kemudian dibarengi dg tawakkal. Tawakkal itu mewakilkan atau menyerahkan. Memasrahkan sepenuhnya atas berhasil/tidaknya ikhtiar pada Yang Maha Kuasa. Sebab Allah-lah Yang Maha Mengabulkan doa-ikhtiar hamba-Nya. Manusia diwajibkan berusaha, Tuhan yang menentukan segalanya.
Dari uraian singkat di atas, harapannya, kita dimampukan memahami dan menghayati. Selanjutnya mencoba mengamalkan, walaupun dalam bentuk yang sederhana sesuai kekuatan dan kemampuan. Selanjutnya berserah sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sebab hanya Dia-lah Yang Maha Menentukan segala sesuatu, dan Maha Mengabulkan permohonan dan ikhtiar hamba-Nya. Teriring doa, semoga ibadah kita di siang ini, maupun serangkaian usaha menyelami kedalaman syukur dengan meningkatkan iman taqwa disisi-Nya, mendapat ridha dan maghfirah Allah Swt. Serta mendapat limpahan berberan sawab dan berkah pangestu utusan-Nya. Amin.

Rabu, 27 April 2016

MENJAGA DAN MEMELIHARA HATI



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXsltZorw6OPRUdVBgMevwF5SUqJzv7qOWSEcd02u-UcD0P-Qjsfjf9ppRmviW_PWpu3KgkDPxda-Tspj3zx5pQ9OI6Krwil5lVjOSSrNn0EesOkePj1umps_J32nt9MtM9eEUH1EhtSZb/s1600/428715_347440111961480_1902745513_n.jpg
Takwa adalah kamu mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, kamu mengharapkan rahmat Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, serta kamu takut azab Allah.”
Demikianlah seharusnya yang selalu ada dan tumbuh dalam benak dan hati setiap Muslim, sehingga akan membawa dampak dan bekas yang baik, melahirkan pribadi-pribadi yang istiqamah dan (konsisten)
Sebenarnya yang menjadi pangkal utama sehingga seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan memperoleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta selamat dari azab-Nya pada hari kiamat kelak adalah sejauh mana dia dapat menjaga dan memelihara hatinya sehingga selalu condong dan mempunyai ketergantungan hanya kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya dzat yang selalu membolak-balikkan hati setiap hambaNya sesuai dengan kehendak-Nya, dan bukan justru sebaliknya, Karena pada dasarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat ketampanan dan kecantikan wajah kita, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya akan melihat hati-hati kita dan amal perbuatan kita. Manakala hati seseorang bersih, maka akan membawa dampak kepada kebaikan seluruh anggota tubuhnya, begitu sebaliknya jika hati seseorang telah rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuhnya, sebagaimana hal ini pernah diisyaratkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, 1/20.
Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh dan jika rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. al-Bukhari).
hati mempunyai peranan yang sangat fital dalam diri seseorang dan menjadi sentral bagi anggota tubuh lainnya sehingga keberadaannyalah yang dapat menentukan baik buruk dan hitam putihnya seluruh amalan dan aspek kehidupan seorang muslim.
kalau kita perhatikan kondisi kebanyakan saat ini, bahwa tolak ukur kebahagiaan seseorang sekedar dengan penampilan lahiriyah dan materi belaka, sehingga mereka sibuk dengan kehidupan dunianya, memperkaya diri, memperindah dan mempercantik diri dengan berbagai macam bentuk keindahan dunia, namun pada saat yang sama, mereka lalai dan lupa dengan keindahan, kebersihan, serta kesucian batin yang pada akhirnya justru dapat menyelamatkan mereka; baik di dunia maupun di akhirat kelak., sebagaimana Firman-Nya :
وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّن قَرْنٍ هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِءْيًا
Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata.” (Maryam: 74).
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Sesungguhnya perkara hati merupakan perkara agung dan kedudukannya pun sangat mulia, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan kitab-kitab suci-Nya untuk memperbaiki hati, dan Dia utus para Rasul untuk menyucikan hati, membersihkan, dan memperindahnya.
Ajaran yang paling besar yang dibawa oleh Rasulullah adalah memperbaiki hati. Maka tidak ada cara untuk menyucikan dan memperbaiki hati kecuali cara yang telah ditempuh oleh beliau. Dengan demikian seseorang akan memahami bahwa hatinya merupakan tempat bagi cahaya dan petunjuk AllahSubhanahu wa Ta’ala, yang dengannya seseorang dapat mengenal Rabbnya, mengenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya,
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menuturkan di dalam salah satu kitab beliau, “Hati yang sehat, yaitu hati yang selalu terjaga dari syirik, sifat dengki, iri hati, kikir, takabur, cinta dunia dan jabatan. Ia terbebas dari semua penyakit yang akan menjauhkannya dari Allah. Ia selamat dari setiap syubhat yang menghadangnya. Ia terhindar dari intaian syahwat yang menentang jati dirinya, dan ia terbebas dari segala keinginan. Ia akan terbebas dari segala penghambat yang akan menghalanginya dari jalan Allah. Inilah hati yang sehat di surga dunia dan surga di alam kubur, serta surga di Hari Kiamat.
Ibnu Rajab al-Hanbali pernah berkata, “Keutamaan itu tidak akan diraih dengan banyaknya amal jasmani, akan tetapi diraih dengan ketulusan niat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala benar, lagi sesuai dengan sunnah Nabi dan dengan banyaknya pengetahuan dan amalan hati.” Ini semua menunjukkan bahwa dasar keimanan atau kekufuran, hidayah atau kesesatan, keberuntungan atau kenistaan tergantung pada apa yang tertanam di dalam hati seorang hamba.
Abu Hurairah pernah menuturkan, bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ الله لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ، وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ.
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasadmu, dan tidak pula kepada bentukmu, akan tetapi Dia melihat kepada hati kamu, kemudian menunjuk ke dadanya dengan telunjuknya.” (HR. Muslim, no. 2564).
Bahkan, mayoritas ulama berkeyakinan bahwa siapa saja yang dipaksa untuk menyatakan “kekufuran”, maka ia tidak berdosa selagi hatinya masih tetap teguh beriman kepada Islam dan tetap dalam kondisi tenang beriman, sebagaimana FirmanNya :
مَ Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (maka dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka dia tidak ber-dosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan dia mendapat azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (An-Nahl: 106-107).

Ayat ini diturunkan, sebagaimana pendapat mayoritas ahli tafsir adalah berkenaan dengan kejadian yang menimpa Ammar bin Yasir, manakalah ia masuk Islam, ia mendapat siksaan dari orang-orang kafir Quraisy di Makkah sehingga ia mau mengucapkan kalimat kekufuran kepada Allah dan cacian kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Di lain kesempatan peristiwa tersebut ia laporkan kepada Rasu-lullah sambil menangis.

قَالَ: كَيْفَ تَجِدُ قَلْبَكَ؟ قَالَ: مُطْمَئِنًّا بِالْإِيْمَانِ. قَالَ: إِنْ عَادُوْا فَعُدْ.

“… maka Nabi bersabda, ‘Bagaimana kondisi hatimu?’ Ia menjawab, ‘Aku masih tenang dalam beriman.’ Maka Nabi bersabda (untuk menggembirakannya dan memberinya kemudahan), ‘Kalau mereka kembali menyiksa, maka silahkan lakukan lagi’.” (HR. al-Hakim, 2:357).

Di dalam sebuah hadits yang lain, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang bersumber dari Anas bin Malik,
لَا يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ.
Iman seseorang tidak akan lurus (benar) sebelum hatinya lurus.” (HR. Ahmad, no. 13079).
Demikian agungnya keutamaan dan urgensi hati seseorang di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga kita dapat mengetahui kebanyakan sumpah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diucapkan dengan ungkapan,
لَا، وَمُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ.
Tidak, demi Dzat yang membolak-balikkan hati.”
Dan di antara doa beliau adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”


Hal yang demikian, karena pada dasarnya kadangkala hati seseorang bisa mengeras, seperti batu atau bahkan lebih keras dari itu, sehingga ia akan jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, rahmatNya, dan dari ketaatan-Nya. Dan sejauh-jauh hati dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hati yang kasar, di mana peringatan tidak lagi bermanfaat baginya, nasihat tidak dapat menjadikan dia lembut, perkataan tidak menjadikannya berilmu, sehingga seseorang yang memiliki hati yang demikian di dalam dadanya, maka hatinya tidak memberikan manfaat apa-apa baginya, dan tidak akan melahirkan sesuatu pun, kecuali kejahatan. Sebaliknya hati yang lembut, yang takut dan tunduk merendahkan diri terhadap Penciptanya, AllahSubhanahu wa Ta’ala, serta selalu mendekatkan diri kepada-Nya, mengharapkan rahmatNya dan menjaga ketaatan-Nya, maka pemiliknya akan mempunyai hati yang bersih, selalu menerima kebaikan.

 Dengan demikian, marilah kita bersungguh-sungguh dalam menjaga hati dan senantiasa mengawasinya, di mana dan kapan saja waktunya, karena ia satu-satunya anggota tubuh kita yang paling besar bahayanya, paling mudah pengaruhnya, dan paling sulit mengurus dan memperbaikinya. Wallahul musta’an.


., .

Sabtu, 23 April 2016

PRINSIP HIDUP QANA'AH

PRINSIP HIDUP QANA'AH

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUbRSxukGHd1wxV2B6hcy3rdk607rwUc_1kd2bhCKczqX6-iK75KhZItPRFLPovswZjzgWv5E9HPdZXvpr8YGW1QlVXogUxojvsfqiQQnMxX3qcWKnhZm_hQJ8P-t4Coi6UXWMlJL0-2-r/s1600/qonaah.jpeg

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ (مسلم :1054)



“Sungguh beruntung orang yang beragama Islam, diberi rizqi secara cukup, dan Allah swt. memberikannya sifat qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah swt. kepadanya.” (Shahih Muslim, no. 1054)
Dalam hadist ini Rasulullah mengajari kita tentang makna qana’ah. yaitu, kepuasaan jiwa terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah swt. orang yang qana’ah adalah orang yang kaya, walaupun dia jatuh miskin. Dia akan bisa menerima kemiskinannya itu sebagaimana dia menerima kekayaannya. tidak menggugat atas kemiskinan, dan congkak serta takabur atas kekayaan. Sesungguhnya semua nikmat dan ujian adalah dari Allah swt.
Prinsip hidup qanaah ialah hidup dengan merasa cukup dengan segala nikmat yang telah diberikan Allah. Namun demikian, qana’ah bukanlah hidup berpangku tangan tanpa berusaha, lantas berharap rezeki dari Allah. Qana’ah malah hidup dengan cara tetap aktif berusaha dan bersyukur. Perkara jumlah rezeki didapat setelah diusahakan, diserahkan sepenuhnya kepada Sang Pemberi rezeki, Allah SWT. Diberi sedikit disyukuri, diberi banyak apalagi. Karena qana’ah disini adalah qana’ah hati bukan qana’ah ihtiyar.
Jadi sebetulnya Qana'ah itu mengandung lima unsur:
ü  Menerima dengan rela apa yang ada.
ü  Memohon kepada Allah tambahan yang pantas dan berusaha.
ü Menerima dengan sabar atas taqdir Allah.
ü  Bertawakal kepada Allah.
ü  Tidak tertarik oleh tipudaya dunia.
Agar kita dapat memiliki hati yang qana’ah maka ada beberapa cara yang bisa kita lakukan
1. Memahami bahwa kekayaan ada dihati.
Rasulullah saw bersabda yang artinya
Dari Abu Hurairah r.a. bersabda Nabi SAW : „ Bukanlah kekayaan itu banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati". ( H.R.Bukhari dan Muslim)
2. Menyadari Beratnya Tanggung Jawab Harta
Bahwa harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemilik nya jika dia tidak mendapatkan nya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.
Ketika seorang hamba ditanya tantang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab dua kali, yakni dari mana memperoleh dan ke mana membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab orang yang diberi amanat harta
3. Yaqin bahwa Rizki Telah Tertulis.
Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Seorang hamba hanya diperintahkan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala yang memberinya rizki dan bahwa rizkinya telah tertulis. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud ra., disebutkan sabda Rasulullah saw. “Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad
4. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur’an yang Agung.
Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). Diantaranya adalah firmaNya,
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (فاطر : 2 )
Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathiir:2)
ومَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (هود:6)
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”(QS. Huud:6)
5. Menyadari bahwa Rizki Tidak Diukur dengan Kepandaian
Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak tergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab rizki, namun bukan ukuran secara pasti. Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.
6. Melihat ke Bawah dalam Hal Dunia
Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi saw,yang artinya....
 “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)
Jika saat ini kita sedang sakit maka yakinlah bahwa selain kita masih ada lagi lebih parah sakitnya. Jika kita merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi dan seterusnya.
7. Membaca Kehidupan Salaf
Yakni melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperoleh harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih membutuhkan.
Yang terakhir. Banyak Memohon Qana’ah kepada Allah
Rasulullah saw adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah swt. agar diberikan qana’ah, beliau bedoa,
“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi)
demikianlah artikel yang saya buat semoga dapat bermanfaat bagi kita
 Wassalam