Minggu, 19 Juni 2016

MENANGIS KETIKA BULAN RAMADHAN AKAN BERAKHIR


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
http://pendidikanpelajaranagama.blogspot.co.id/
                                                     
Tak terasa bulan Ramadlan tahun 1437 H hampir berakhir tanpa banyak umat Islam merasa kehilangan dan sedih, karena memang biasanya pengakuan tentang pentingnya sesuatu itu kebanyakan baru muncul pada saat sesuatu itu telah tiada. Ketika sesuatu itu telah berpisah dari kita, biasanya baru terasa ada perasaan kehilangan. Begitu juga halnya dengan nilai pentingnya bulan Ramadlan. Pada saat bulan mulia ini datang, tiada yang ditonjolkan kecuali perasaan biasa-biasa saja. Rasa penyesalan dan kehilangan baru muncul manakala Ramadlan telah purna.
Karena saking penting dan berharganya bulan Ramadlan ini, para malaikat, bumi dan langit menangis ketika bulan Ramadlan akan berakhir.
ِإذَا كَانَ َاخِرُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ بَكَتِ السَّمَوَاتُ وَاْلاَرْضُ وِالْمَلاَئِكَةُ مُصِيْبَةً لِاُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قِيْلَ اَيُّ مُصِيْبَةٍ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم هِيَ ذَهَابُ رَمَضَانَ لِاَنَّ الدَّعْوَاتِ فِيْهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالصَّدَاقَةً مَقْبُوْلَةٌ (الحديث)
“Ketika tiba akhir malam Ramadlan, langit, bumi dan malaikat menangis karena adanya musibah yang menimpa umat Nabi Muhammad. (Sahabat) bertanya, “Musibah apakah wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Berpisah dengan bulan Ramadlan, sebab pada bulan ini doa dikabulkan dan shadaqah diterima.”
Yang patut disayangkan ternyata sebagian besar masyarakat kita menunjukkan sikap biasa-biasa saja bahkan masa bodoh terhadap hadirnya bulan mulia ini. Hal ini dapat terbaca dari begitu banyaknya masyarakat yang dengan terang-terangan menampakkan keengganannya dalam melakukan ibadah puasa. Mereka bebas makan, minum dan merokok di depan banyak orang tanpa merasa sedikit pun merasa risih, malu dan berdosa
Nuansa bulan Ramadlan pun makin kurang maknanya oleh keragaman acara di televisi. Memang, harus diakui dalam bulan Ramadlan sajian televisi-televisi tentang keislaman relativ meningkat dibanding bulan-bulan biasa, tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang menggembirakan, sebab sejatinya program televisi itu semata-mata hanya mengejar keuntungan. Hal ini dapat dibuktikan, ketika Ramadlan berlalu, maka berakhir pula tayangan-tayangan keislaman seperti itu. Bahkan para artis yang pada bulan Ramadlan tampil sangat religi dengan menutup auratnya, seusai Ramadlan mereka hampir pasti akan kembali ke habitat aslinya, tampil buka-bukaan lagi. Pemandangan seperti ini tentu sangat menyesatkan dan membahayakan terhadap jiwa dan aqidah para generasi muda Islam. Mereka bisa saja salah memahami bahwa ternyata ketaqwaan itu hanya ada di bulan Ramadlan saja, orang wajib menutup aurat hanya ketika ada acara-acara keislaman, di luar itu mereka bebas melakukan apa saja. 
Sebagai bagian dari umat Islam kita tentu harus berupaya untuk mencegah agar keadaan seperti gambaran tadi yang sekarang lagi menjangkiti masyarakat secara luas ini tidak semakin merajalela. Dan kami mengajak kepada semuanya khususnya diri saya pribadi, marilah sisa Ramadlan yang tinggal sesaat ini betul-betul dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Bagi yang dapat melaksanakan ibadah puasa dan serangkaian ibadah-ibadah lainnya di bulan ini tentu harus bersyukur kepada Allah SWT, dengan harapan semoga serangkaian ibadah yang dilakukan pada bulan suci ini merupakan proses untuk menjadikannya sebagai manusia yang bertaqwa, sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah SWT: 
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah;183).
Seperti halnya tanah yang bisa bernilai harganya manakala ia telah diproses melalui sebuah pembakaran sehingga menjadi genting atau perkakas rumah tangga lainnya. Tak ubahnya pula dengan besi yang bisa berubah mahal harganya ketika melewati proses pembakaran sehingga berubah menjadi mobil, motor atau produk-produk berharga lainnya. Atau sama halnya dengan ulat berbulu yang asalnya menjijikkan, namun setelah melewati proses bertafakkur dalam kepompong selama 36 hari dia bisa berubah menjadi kupu-kupu yang sangat menarik, berwarna-warni, terbang kian kemari.
Salah satu bentuk ekspresi syukur atas pelaksanaan ibadah di bulan Ramadlan adalah tidak terjadinya kemandekan amal setelahnya karena memang bulan Ramadlan memiliki keterkaitan erat dengan bulan Syawal. Hal ini bisa dibuktikan antara lain dengan anjuran menyusuli puasa Ramadlan dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Artinya selepas bulan Ramadlan sebisa mungkin amal seseorang justru harus lebih ditingkatkan. Jika bulan Ramadlan merupakan bulan pembakaran, maka bulan Syawal nanti adalah bulan peningkatan amal sebagaimana makna harfiyahnya masing-masing.
Keterputusan amal bersamaan berlalunya bulan Ramadlan harus benar-benar dihindari. Sebaik-baiknya amal adalah amal yang sambung-menyambung, susul-menyusul dan tidak berhenti di tengah jalan begitu menganggap selesai, hingga datang saat kematian. Allah SWT. berfirman:
فإذا فرغت فانصب
“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka lanjutkanlah dengan sungguh-sungguh (urusan lain).” (QS. Alamnashrah:7).
Rasulullah SAW bersabda:
أحب الأعمال إلى الله الحال المرتحل أخرجه الترميذي
“Sebaik-baiknya amal bagi Allah SWT adalah begitu selesai (sampai tujuan) segera berangkat lagi.”
Wassalam

Minggu, 15 Mei 2016

Merenungi Angan-Angan Orang Yang Sudah Tidak Memiliki Kesempatan





https://oediku.files.wordpress.com/2014/03/kematian.jpg
Pada kesempatan ini, kami tak hendak mengajak sahabat sekalian untuk memiliki angan-angan dunia yang muluk-muluk, tapi kami hendak mengajak agar kita merenungi angan-angan sebagian orang yang sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk merealisasikannya. Angan-angan mereka sudah terputuskan dari sebab. Mereka adalah orang yang sudah meninggal dunia.
Mungkin ada yang bertanya, apa yang menjadi angan-angan mereka? Setelah melihat kenikmatan atau siksaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terpampang di mata mereka? Masihkah mereka menginginkan kenikmatan dunia yang telah banyak menyita perhatian manusia?
Orang-orang yang sudah meninggal dunia itu bermacam-macam, ada yang baik dan ada pula yang buruk; ada yang shalih dan ada pula yang sebaliknya; ada yang ditangisi kematiannya oleh manusia dan ada pula yang diharapkan kematiannya. Masing-masing orang ini memiliki angan-angan yang berbeda. Angan-angan mereka ini telah dijelaskan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam juga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, semisalnya :
Pertama; orang-orang shalih ingin segera di bawa ke kuburannya setelah meninggalnya;
Disebutkan dalam shahih al-Bukhari dari hadits Abi Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:
Yang artinya : Apabila jenazah sesorang diletakkan lalu orang-orang mengangkatnya di atas pundak-pundak mereka, maka jika orang itu baik, dia berkata; segerakanlah aku, segerakanlah aku, sedangkan jika tidak baik, ia berkata; celaka, hendak kemana mereka pergi? Ungkapan ini di dengar suaranya oleh semuanya kecuali manusia, seandainya dia juga mendengar tentu pingsan.
Kedua; Orang-orang berdoa agar kiamat dipercepat
Disebutkan dalam hadits yang panjang yang dikeluarkan imam Ahmad dalam Musnadnya bahwa ketika seorang di dalam kubur bisa menjawab pertanyaan dua malaikat kemudian datang kabar gembira dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa dia termasuk penghuni surga, maka hamba tersebut memohon agar hari kiamat dipercepat kedatangannya.
Ini adalah angan-angan orang shalih setelah melihat tempatnya di surga, padahal hari kiamat adalah hari yang tersulit dan terberat bagi manusia. Ini sangat berbeda dengan kaum munafik dan orang orang kafir. Mereka memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar hari kiamat tidak datang, padahal di dalam kubur mereka mendapatkan siksa yang sangat pedih. Namun karena mereka tahu bahwa siksa di neraka itu jauh lebih menyakitkan dan lebih pedih, sehingga mereka lebih memilih tetap disiksa di dalam kuburnya.
Ketiga; Angan-angan orang yang mati syahid
Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabda beliau yang artinya:
 “Tidak ada seorangpun yang masuk surga kemudian ingin kembali ke dunia kecuali orang yang mati syahid, dan dia tidak menginginkan apapun di dunia kecuali mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian terbunuh sebanyak sepuluh kali, ini disebabkan oleh kemuliaan (keutamaan mati syahid) yang dia saksikan.” (HR. Bukhori)
Inilah sebagian dari angan-angan orang yang telah melihat kemuliaannya di sisi AllahSubhanahu wa Ta’ala meski ingin kembali ke dunia, namun angan-angan mereka tidak ada hubungannya dengan dunia dan kenikmatannya sedikitpun. Mereka ingin kembali untuk menambah amalan agar kemuliaan mereka bertambah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala
Demikianlah beberapa angan-angan orang-oarng shalih yang sudah meninggal dunia, lalu bagaimana angan-angan orang yang lalai semasa hidup mereka di dunia? Diantara angan-angan mereka adalah:
Pertama, yaitu mengeluarkan sedekah.
Seseorang yang akan meninggal dunia berangan-angan untuk hidup kembali dan mengeluarkan sedekah dan menjadi orang shaleh, sebagaimana diceritakan oleh Allah dalam Alquran (yang artinya):
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?” (QS. al-Munafiqun: 10)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata “Setiap orang yang lalai (di masa hidupnya) pasti akan menyesal di saat nyawanya akan dicabut. Ia memohon agar umurnya di perpanjang walau hanya sesaat untuk melaksanakan amal shaleh yang selama ini ia tinggalkan.”
Kedua, melaksanakan amal shaleh
Angan-angan terbesar orang yang sudah meninggal dunia adalah bisa hidup kembali dan melaksanakan amal shaleh;



حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ {99} لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata:”Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. al-Mukminun: 99-100)
Inilah keadaan yang dialami oleh orang-orang kuffar dan orang yang lalai dari perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala sewaktu masih hidup di dunia. Saat kematian menjemput barulah ia sadar dan memohon kepada Allah untuk di tangguhkan kematiannya walaupun hanya sesaat agar ada kesempatan untuk beramal.
Tapi tentu, angan-angan ini tetap hanya sebatas angan-angan yang tidak akan mungkin diwujudkan, karena Allah telah menetapkan orang yang sudah meninggal tidak akan di kembalikan lagi ke dunia.
Maka sudah sepantasnya bagi kita yang masih berada di negeri angan-angan untuk melaksanakan angan-angan yang berupa keinginan untuk menambah dan memperbaiki amal, sebagai bekal untuk bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu hidup di dunia ini untuk melaksanakan amal shaleh.

Sabtu, 30 April 2016

BELAJAR MENJADI PEMIMPIN AMANAH




BELAJAR MENJADI PEMIMPIN AMANAH


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
 http://cerdasmulia.net/wp-content/uploads/2015/08/Belajar-Menjadi-Seorang-Pemimpin-yang-Bijaksana.jpg
Ada 5 hal yang perlu mendapat perhatian seksama dalam menggayuh derajad syukur, yg sekaligus peningkatan ibadah, iman dan taqwa, maupun peningkatan kualitas berbagai macam bentuk laku dalam mendekat kepada-Nya.
Pertama, instropeksi mendalam atas amanah tanggungjawab yang diemban saat ini. Mulai dari niatan awal, proses pelaksanaan, berbagai bentuk keterkaitannya baik yg individual struktural maupun sosial, maupun segala bentuk akibat dan efek lanjutnya. Yang semula niatannya karena tuntutan kebutuhan, tuntutan profesi, duniawi, keluarga dan semacamnya, hendaknya diluruskan dengan niatan ibadah. Prosesnya pun juga demikian, perlu dikoreksi dan kajian mendalam. Terlebih dengan berbagai bentuk keterkaitan langsung tdk langsung, maupun berbagai akibat dan efek lanjutnya, yang biasanya kurang mendapat perhatian yg seksama, perlu lebih didalami keseriusannya dan kekhusyukannya. Sebab, itu semua merupakan perintah Allah, yg sekaligus mampu mengantar pelakunya menuju surga Firdaus yang Dia janjikan. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Mukminuun: 8-11 (ayat muka) : ”Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara ibadah sembahyangnya. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mukminuun: 8-11)
Hal kedua yg perlu mendapat perhatian seksama adalah menyadari bahwa setiap diri adalah pemimpin yang sekaligus pendidik. Mungkin saja saat ini memang belum menjadi pemimpin dan pendidik, masih menjadi anggota ataupun obyek didik. Tetapi pada dasarnya, saat ini pun, setiap diri merupakan pemimpin dan pendidik, khususnya bagi diri sendiri. Dan pada saatnya nanti, pasti akan menjadi pemimpin dan pendidik pada suatu unit tertentu. Minimal pendidik bagi keluarganya. Karena itu perlu kesadaran, pemahaman, dan penghayatan yang mendasar sedini mungkin. Selanjutnya perlu langkah konkrit yang berupa pelatihan, pembelajaran, pengkaderan, sampai penugasan, menuju kemantapan keyakinan bahwa jiwa raga ini adalah pemimpin dan pendidik. Dan yang pasti, semua jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas proses pelaksanaan yg telah dilakukannya sebagai pemimpin dan pendidik. Sebagaimana sabda Nabi SAW: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. (رواه البخارى) ”Kamu sekalian adalah pemimpin, maka akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan yang telah dilakukan.
Ketiga, belajar tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal batas. Belajar sepanjang hayat, long live education. Memenuhi sabda Nabi Saw, belajar semenjak ayunan hingga liang lahat. أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ Belajar semenjak dari ayunan nampaknya memang mustahil. Karena itu, ia mesti dilakukan oleh orang lain atau orang tua. Kita menjadi seperti ini, karena dulunya telah dididik dan dibelajari orang tua. Karena itu perlu memberikan tongkat estafet pendidikan pembelajaran kepada anak2 kita. Bahkan semenjak masih dalam kandungan, proses pendidikan sudah bisa dilakukan. Atau setidaknya memahami bahwa pendidikan sepanjang hayat itu harus kita lakukan, baik untuk diri pribadi maupun untuk orang lain dan generasi kita kedepannya. Sebab, bila yang terjadi sebaliknya, ketika melahirkan generasi yg bodoh, maka dosa akibat kebodohan tersebut ikut ditanggung generasi sebelumnya, khususnya orang tuanya. Sebagaimana sabda Nabi Saw: وَمَنْ تَرَكَ وَلَدَهُ جَاهِلاً كَانَ كُلُّ ذَنْبٍ عَمِلَهُ وَعَلَيْهِ. “Barangsiapa yang meninggalkan anaknya menjadi orang bodoh, maka dia akan menanggung juga dosanya dihadapan Allah”.
Keempat, menerima dan mensyukuri segala bentuk panduming Gusti atau nrimo ing pandum. Pandum yang menyenangkan ataupun yang menyusahkan diterima dengan rasa syukur lapang dada. Menyadari bahwa Allah-lah yg telah mengaturnya. Ada rahasia besar yg telah Dia siapkan bagi hamba-Nya. Walaupun nampaknya terkena musibah, tapi dibalik itu ada hikmah yg luar biasa besar dibalik sengsaranya musibah. Begitupun ketika diberi pandum rezeki berlimpah, bersyukurnya lebih ditingkatkan. Amal dan ibadahnya pun juga ditingkatkan.
Kelima, optimis kepada Allah dibarengi ikhtiar dan tawakkal. Optimis bahwa Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya yang berimannya ma’rifatun wa tashdiwun. Allah itu tergantung pada prasangka hamba-Nya. Namun demikian, baik sangka tersebut perlu dibarengi dg usaha dan kerja keras. Usaha yg ringan, hasilnya pun sedikit. Usaha yg besar hasilnya besar pula. Tak ubahnya filosofi memancing, bila ingin mendapatkan ikan yg besar, maka umpannya pun harus besar. Setelah melakukan ikhtiar pada tempatnya, kemudian dibarengi dg tawakkal. Tawakkal itu mewakilkan atau menyerahkan. Memasrahkan sepenuhnya atas berhasil/tidaknya ikhtiar pada Yang Maha Kuasa. Sebab Allah-lah Yang Maha Mengabulkan doa-ikhtiar hamba-Nya. Manusia diwajibkan berusaha, Tuhan yang menentukan segalanya.
Dari uraian singkat di atas, harapannya, kita dimampukan memahami dan menghayati. Selanjutnya mencoba mengamalkan, walaupun dalam bentuk yang sederhana sesuai kekuatan dan kemampuan. Selanjutnya berserah sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sebab hanya Dia-lah Yang Maha Menentukan segala sesuatu, dan Maha Mengabulkan permohonan dan ikhtiar hamba-Nya. Teriring doa, semoga ibadah kita di siang ini, maupun serangkaian usaha menyelami kedalaman syukur dengan meningkatkan iman taqwa disisi-Nya, mendapat ridha dan maghfirah Allah Swt. Serta mendapat limpahan berberan sawab dan berkah pangestu utusan-Nya. Amin.

Rabu, 27 April 2016

MENJAGA DAN MEMELIHARA HATI



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXsltZorw6OPRUdVBgMevwF5SUqJzv7qOWSEcd02u-UcD0P-Qjsfjf9ppRmviW_PWpu3KgkDPxda-Tspj3zx5pQ9OI6Krwil5lVjOSSrNn0EesOkePj1umps_J32nt9MtM9eEUH1EhtSZb/s1600/428715_347440111961480_1902745513_n.jpg
Takwa adalah kamu mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, kamu mengharapkan rahmat Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, serta kamu takut azab Allah.”
Demikianlah seharusnya yang selalu ada dan tumbuh dalam benak dan hati setiap Muslim, sehingga akan membawa dampak dan bekas yang baik, melahirkan pribadi-pribadi yang istiqamah dan (konsisten)
Sebenarnya yang menjadi pangkal utama sehingga seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan memperoleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta selamat dari azab-Nya pada hari kiamat kelak adalah sejauh mana dia dapat menjaga dan memelihara hatinya sehingga selalu condong dan mempunyai ketergantungan hanya kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya dzat yang selalu membolak-balikkan hati setiap hambaNya sesuai dengan kehendak-Nya, dan bukan justru sebaliknya, Karena pada dasarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat ketampanan dan kecantikan wajah kita, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya akan melihat hati-hati kita dan amal perbuatan kita. Manakala hati seseorang bersih, maka akan membawa dampak kepada kebaikan seluruh anggota tubuhnya, begitu sebaliknya jika hati seseorang telah rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuhnya, sebagaimana hal ini pernah diisyaratkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, 1/20.
Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh dan jika rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. al-Bukhari).
hati mempunyai peranan yang sangat fital dalam diri seseorang dan menjadi sentral bagi anggota tubuh lainnya sehingga keberadaannyalah yang dapat menentukan baik buruk dan hitam putihnya seluruh amalan dan aspek kehidupan seorang muslim.
kalau kita perhatikan kondisi kebanyakan saat ini, bahwa tolak ukur kebahagiaan seseorang sekedar dengan penampilan lahiriyah dan materi belaka, sehingga mereka sibuk dengan kehidupan dunianya, memperkaya diri, memperindah dan mempercantik diri dengan berbagai macam bentuk keindahan dunia, namun pada saat yang sama, mereka lalai dan lupa dengan keindahan, kebersihan, serta kesucian batin yang pada akhirnya justru dapat menyelamatkan mereka; baik di dunia maupun di akhirat kelak., sebagaimana Firman-Nya :
وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّن قَرْنٍ هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِءْيًا
Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata.” (Maryam: 74).
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Sesungguhnya perkara hati merupakan perkara agung dan kedudukannya pun sangat mulia, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan kitab-kitab suci-Nya untuk memperbaiki hati, dan Dia utus para Rasul untuk menyucikan hati, membersihkan, dan memperindahnya.
Ajaran yang paling besar yang dibawa oleh Rasulullah adalah memperbaiki hati. Maka tidak ada cara untuk menyucikan dan memperbaiki hati kecuali cara yang telah ditempuh oleh beliau. Dengan demikian seseorang akan memahami bahwa hatinya merupakan tempat bagi cahaya dan petunjuk AllahSubhanahu wa Ta’ala, yang dengannya seseorang dapat mengenal Rabbnya, mengenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya,
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menuturkan di dalam salah satu kitab beliau, “Hati yang sehat, yaitu hati yang selalu terjaga dari syirik, sifat dengki, iri hati, kikir, takabur, cinta dunia dan jabatan. Ia terbebas dari semua penyakit yang akan menjauhkannya dari Allah. Ia selamat dari setiap syubhat yang menghadangnya. Ia terhindar dari intaian syahwat yang menentang jati dirinya, dan ia terbebas dari segala keinginan. Ia akan terbebas dari segala penghambat yang akan menghalanginya dari jalan Allah. Inilah hati yang sehat di surga dunia dan surga di alam kubur, serta surga di Hari Kiamat.
Ibnu Rajab al-Hanbali pernah berkata, “Keutamaan itu tidak akan diraih dengan banyaknya amal jasmani, akan tetapi diraih dengan ketulusan niat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala benar, lagi sesuai dengan sunnah Nabi dan dengan banyaknya pengetahuan dan amalan hati.” Ini semua menunjukkan bahwa dasar keimanan atau kekufuran, hidayah atau kesesatan, keberuntungan atau kenistaan tergantung pada apa yang tertanam di dalam hati seorang hamba.
Abu Hurairah pernah menuturkan, bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ الله لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ، وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ.
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasadmu, dan tidak pula kepada bentukmu, akan tetapi Dia melihat kepada hati kamu, kemudian menunjuk ke dadanya dengan telunjuknya.” (HR. Muslim, no. 2564).
Bahkan, mayoritas ulama berkeyakinan bahwa siapa saja yang dipaksa untuk menyatakan “kekufuran”, maka ia tidak berdosa selagi hatinya masih tetap teguh beriman kepada Islam dan tetap dalam kondisi tenang beriman, sebagaimana FirmanNya :
مَ Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (maka dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka dia tidak ber-dosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan dia mendapat azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (An-Nahl: 106-107).

Ayat ini diturunkan, sebagaimana pendapat mayoritas ahli tafsir adalah berkenaan dengan kejadian yang menimpa Ammar bin Yasir, manakalah ia masuk Islam, ia mendapat siksaan dari orang-orang kafir Quraisy di Makkah sehingga ia mau mengucapkan kalimat kekufuran kepada Allah dan cacian kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Di lain kesempatan peristiwa tersebut ia laporkan kepada Rasu-lullah sambil menangis.

قَالَ: كَيْفَ تَجِدُ قَلْبَكَ؟ قَالَ: مُطْمَئِنًّا بِالْإِيْمَانِ. قَالَ: إِنْ عَادُوْا فَعُدْ.

“… maka Nabi bersabda, ‘Bagaimana kondisi hatimu?’ Ia menjawab, ‘Aku masih tenang dalam beriman.’ Maka Nabi bersabda (untuk menggembirakannya dan memberinya kemudahan), ‘Kalau mereka kembali menyiksa, maka silahkan lakukan lagi’.” (HR. al-Hakim, 2:357).

Di dalam sebuah hadits yang lain, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang bersumber dari Anas bin Malik,
لَا يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ.
Iman seseorang tidak akan lurus (benar) sebelum hatinya lurus.” (HR. Ahmad, no. 13079).
Demikian agungnya keutamaan dan urgensi hati seseorang di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga kita dapat mengetahui kebanyakan sumpah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diucapkan dengan ungkapan,
لَا، وَمُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ.
Tidak, demi Dzat yang membolak-balikkan hati.”
Dan di antara doa beliau adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”


Hal yang demikian, karena pada dasarnya kadangkala hati seseorang bisa mengeras, seperti batu atau bahkan lebih keras dari itu, sehingga ia akan jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, rahmatNya, dan dari ketaatan-Nya. Dan sejauh-jauh hati dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hati yang kasar, di mana peringatan tidak lagi bermanfaat baginya, nasihat tidak dapat menjadikan dia lembut, perkataan tidak menjadikannya berilmu, sehingga seseorang yang memiliki hati yang demikian di dalam dadanya, maka hatinya tidak memberikan manfaat apa-apa baginya, dan tidak akan melahirkan sesuatu pun, kecuali kejahatan. Sebaliknya hati yang lembut, yang takut dan tunduk merendahkan diri terhadap Penciptanya, AllahSubhanahu wa Ta’ala, serta selalu mendekatkan diri kepada-Nya, mengharapkan rahmatNya dan menjaga ketaatan-Nya, maka pemiliknya akan mempunyai hati yang bersih, selalu menerima kebaikan.

 Dengan demikian, marilah kita bersungguh-sungguh dalam menjaga hati dan senantiasa mengawasinya, di mana dan kapan saja waktunya, karena ia satu-satunya anggota tubuh kita yang paling besar bahayanya, paling mudah pengaruhnya, dan paling sulit mengurus dan memperbaikinya. Wallahul musta’an.


., .