Senin, 18 April 2016

ISTIGHFAR SEBAGAI KEBUTUHAN KALBU



 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
http://www.umrohquantum.com/wp-content/uploads/2014/07/istigfar-1.jpeg
Kalimat istighfar yang berbunyi; Astaghfirullahal‘Adziim… bukanlah kalimat asing yang jarang didengar telinga kaum muslimin. Dalam Islam, istighfar merupakan kalimat thayyibah atau kalimat yang baik, yang secara hukum tidak diwajibkan, seperti apa yang ada dalam rukun Islam; shalat, zakat dan puasa. Namun demikian, istighfar merupakan kebutuhan kalbu seorang muslim, sebagai santapan ruhaninya, manakala seseorang merasa telah menumpuk dosa. Karena itu, meskipun bukan merupakan sebuah kewajiban, mulut-mulut suci orang beriman senantiasa melantunkan kalimat-kalimat istighfar dengan sepenuh hati dan jiwa.
Ulama-ulama salaf zaman dahulu, selalu menganjurkan beristighfar kepada setiap orang yang datang dan mengadukan permasalahannya. Seperti yang dilakukan oleh Hasan Al-Bashry. Suatu hari ada seseorang datang menemui Hasan Al-Basri. Lelaki itu mengadukan musim kemarau yang panjang serta hari-hari yang kering dan gersang. Maka, Hasan Al-Basri berkata kepada orang itu : “Beristighfarlah”.
Tidak lama, datang lagi orang lain. Kepada Hasan Al-Basri orang itu mengadukan masalahnya. Ia mengeluhkan soal kesulitan hidup dan kemiskinan. Maka Hasan Al-Basri menasehati orang itu, “Beristighfarlah !”.
Beberapa saat kemudian, datang juga orang lain. kali ini, orang itu mengadukan masalah pribadinya. Ia mengadukan soal keturunan yang sulit ia dapatkan. Maka Hasan Al-Basri kembali menasehati orang itu, “Beristighfarlah !”.
Orang orang yang menyaksikan peristiwa itu berturut-turut merasa heran. Sebab setiap kali orang itu datang mengadukan masalah yang mereka hadapi, selalu saja jawabannya Hasan Al-Basri adalah, “Beristighfarlah!”.
Maka Hasan Al-Basri mengobati keheranan mereka dengan ajaran keimanan, dengan tuntunan Al-Qur’an dan petunjuk keNabian. “Llihatlah apa yang difirmankan Allah !”. Begitu kata Hasan Al-Basri. Lalu ia membaca ayat Al-Qur’an,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ
بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
 “Maka aku katakan kepada mereka, Beristighfarlah, (Mohonlah ampun kepada Rabbmu), sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membayangkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (QS. Nuh : 10-12)
Setiap kita tidak bisa lepas dari masalah penting dalam hidup. Kisah Hasan Al-Basri dan jawabannya memetakan masalah itu kedalam tiga kelompok besar, yakni masalah lingkungan hidup, masalah sarana atau kebutuhan hidup dan ketiga, masalah teman hidup.

Jika dihubungkan secara langsung memang tidak masuk akal, bila dikatakan bahwa istighfar mampu membuat manusia sejahtera lahir dan batinnya. Namun bila ditinjau dari segi psikologi agama, maka tidak ada yang tidak mungkin. Karena fungsi istrighfar itu sendiri adalah sebagai perantara atau permohonan yang amat sangat kepada Allah SWT, agar mengampuni dosa-dosanya. Sedangkan dosa menumpuk yang harus ditanggung suatu kaum, mampu mendatangkan murka Allah SWT, hingga Dia mengadzabnya. Seperti halnya Dia memperpanjang musim kemarau, hingga penduduk suatu kaum itu merasa tersiksa dengan kekurangan sumber bahan makanan.

Kemarau dan kekeringan adalah persoalan lingkungan hidup. Kita memerlukan lingkungan yang subur, segar, untuk menjalankan hidup ini. Kita perlu hujan untuk mengairi SAWah, membasahi tanaman, untuk bersuci dan membersihkan diri. Air adalah kehidupan.

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka, mengapakah mereka tidak juga beriman?”. (QS. Al-Anbiya : 30).
Beristighfar untuk meminta ampunan atas dosa dan kesalahan bukan lagi suatu keniscayaan, melainkan sebuah realita. Tapi berisitighfar untuk memohon solusi atas tiga masalah besar dalam hidup kita, adalah kebutuhan. Ruhnya ada lah kepasrahan dan kesadaran bahwa kita selalu perlu ampunan. Sebab selalu saja kita melakukan salah dan keliru. Sebab selalu saja kita berlagak sombong dan berbuat dosa. Ketulusan dan keikhlasan itulah kekuatannya, sebab sebanyak apapun amal kita tak akan mencukupi untuk membayar kebaikan Allah.
Bila sudah begini, masih pantasakah ada angkuh dan enggan di dalam hati?. Bila seperti itu masalahnya, Apa yang membuat kita meresa tidak membutuhkan istighfar?. Bukankan esensi dari setentram lahir dan batin manusia adalah karena mendapat ampunan dan ridla Allah?.
Istighfar adalah perlambang ketundukan, kepasrahan, pengakuan, kekerdilan, kelemahan seorang hamba di hadapan Allah SWT dan semua itu yang akan men datangkan kasih sayang dan cinta Allah.
Cinta dan kasih sayang Allah SWT itu bercermin jelas dalam hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra : ”Sesungguhnya Allah lebih suka menerima taubat seorang hambaNya melebihi kesenangan seorang yang menemukan kembali secara tiba-tiba untanya yang telah hilang dari padanya di tengah hutan”. (HR. Bukhari-Muslim).
 


Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : “Salah satu sebab paling besar dari kesempitan hati adalah menjauh dari Allah dan lalai dari berdzikir kepada Allah!”. Karena itu menurutnya, ada tiga jenis hati, yakni hati yang sakit, hati yang kasat, dan hati yang bersih dari penyakit. Dua hati yang disebutkan di awal tadi terKotori oleh asap kemaksiatan yang terus menerus bertumpuk. Sedangkan hati yang ketiga adalah hati yang selamat. “Itu adalah hati yang sehat dan selamat, tidak ada yang memisahkan penerimaan terhadap kebenaran, kecintaan pada kebenaran, dan tunduk kepada kebenaran !”.
Istighfar menjadikan hati lebih putih, lebih bersih dan berkilau. Kondisi ini akan dirasakan saat seseorang melakukan banyak dosa dan kemaksiatan, lalu hatinya menjadi kasar dan legam karena dosa. Hati yang kasar, kesat, dan legam pasti tercermin pada kesempitan hati, kegundahan, kerisauan pikiran, kebingungan, kekacauan dalam pikiran.
Allah SWT memberikan dua pelindung pada hambaNya jika mereka tetap memelihara istighgfar dan bertekad untuk meninggalkan kemaksiatan.
Berkata Abu Musa Al Asy’ari : “Kalian memiliki dua pengaman dari Allah SWT, sebagaimana firmanNya dalam surat al-Anfal ayat 33 :
وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun”.
Jadi jelasnya, apa yang kita inginkan dan pinta kepada Allah SWT, lakukanlah dengan perbanyak istighfar. Istighfar adalah kebutuhan yang terus berkelanjutan karena setiap orang takkan pernah habis daftar kebutuhannya dalam hidup ini. Karenanya, setiap orang secara terus menerus membutuhkan istighfar. Istighfar mengandung banyak kebaikan, menyingkir bahaya, menambah kekuatan amal hati dan badan serta keyakinan iman.
Dengan demikian, kita perlu sangat waspada. Terutama terhadap aneka kenikmatan yang tengah kita reguk. Baik kenikmatan berupa rizki, anak maupun kesehatan. Teliti dan koreksilah lagi rahmat dan karunia yang Allah berikan tersebut. Apakah telah kita pergunakan dengan sebaik-baiknya menurut apa yang telah digariskan oleh syari’at agama ataukah kita nikmati sendiri dengan kenikmatan yang sebebas-bebasnya.
Ingat bahwa segala macam kenikmatan yang bersifat duniawi adalah ujian. Jangan sampai kenikmatan yang selama ini kita reguk, ternyata merupakan istijraj, akni pemanjaan dari Allah yang membinasakan. Ingat pula bahwa orang yang sedang dimanjakan oleh Allah, kemudian Dia tidak memberinya petunjuk sedikitpun, maka celakalah orang tersebut.
Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar