Kalimat istighfar yang berbunyi; Astaghfirullahal‘Adziim… bukanlah kalimat asing yang jarang didengar telinga kaum muslimin.
Dalam Islam, istighfar merupakan kalimat thayyibah atau kalimat yang baik, yang
secara hukum tidak diwajibkan, seperti apa yang ada dalam rukun Islam; shalat,
zakat dan puasa. Namun demikian, istighfar merupakan kebutuhan kalbu seorang
muslim, sebagai santapan ruhaninya, manakala seseorang merasa telah menumpuk
dosa. Karena itu, meskipun bukan merupakan sebuah kewajiban, mulut-mulut suci
orang beriman senantiasa melantunkan kalimat-kalimat istighfar dengan sepenuh
hati dan jiwa.
Tidak lama, datang lagi orang lain.
Kepada Hasan Al-Basri orang itu mengadukan masalahnya. Ia mengeluhkan soal
kesulitan hidup dan kemiskinan. Maka Hasan Al-Basri menasehati orang itu,
“Beristighfarlah !”.
Beberapa saat kemudian, datang juga
orang lain. kali ini, orang itu mengadukan masalah pribadinya. Ia mengadukan
soal keturunan yang sulit ia dapatkan. Maka Hasan Al-Basri kembali menasehati
orang itu, “Beristighfarlah !”.
Orang orang yang menyaksikan
peristiwa itu berturut-turut merasa heran. Sebab setiap kali orang itu datang
mengadukan masalah yang mereka hadapi, selalu saja jawabannya Hasan Al-Basri
adalah, “Beristighfarlah!”.
Maka Hasan Al-Basri mengobati keheranan
mereka dengan ajaran keimanan, dengan tuntunan Al-Qur’an dan petunjuk keNabian.
“Llihatlah apa yang difirmankan Allah !”. Begitu kata Hasan Al-Basri. Lalu ia
membaca ayat Al-Qur’an,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ
غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ
بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ
وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“Maka aku katakan kepada mereka, Beristighfarlah,
(Mohonlah ampun kepada Rabbmu), sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun. Niscaya
Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membayangkan harta dan
anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di
dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (QS. Nuh : 10-12)
Setiap kita tidak bisa lepas dari
masalah penting dalam hidup. Kisah Hasan Al-Basri dan jawabannya memetakan
masalah itu kedalam tiga kelompok besar, yakni masalah lingkungan hidup,
masalah sarana atau kebutuhan hidup dan ketiga, masalah teman hidup.
Jika dihubungkan secara langsung
memang tidak masuk akal, bila dikatakan bahwa istighfar mampu membuat manusia
sejahtera lahir dan batinnya. Namun bila ditinjau dari segi psikologi agama,
maka tidak ada yang tidak mungkin. Karena fungsi istrighfar itu sendiri adalah
sebagai perantara atau permohonan yang amat sangat kepada Allah SWT, agar
mengampuni dosa-dosanya. Sedangkan dosa menumpuk yang harus ditanggung suatu
kaum, mampu mendatangkan murka Allah SWT, hingga Dia mengadzabnya. Seperti
halnya Dia memperpanjang musim kemarau, hingga penduduk suatu kaum itu merasa
tersiksa dengan kekurangan sumber bahan makanan.
Kemarau dan kekeringan adalah
persoalan lingkungan hidup. Kita memerlukan lingkungan yang subur, segar, untuk
menjalankan hidup ini. Kita perlu hujan untuk mengairi SAWah, membasahi
tanaman, untuk bersuci dan membersihkan diri. Air adalah kehidupan.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا
يُؤْمِنُونَ
“Dan dari
air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka, mengapakah mereka tidak juga
beriman?”. (QS.
Al-Anbiya : 30).
Beristighfar untuk meminta ampunan
atas dosa dan kesalahan bukan lagi suatu keniscayaan, melainkan sebuah realita.
Tapi berisitighfar untuk memohon solusi atas tiga masalah besar dalam hidup
kita, adalah kebutuhan. Ruhnya ada lah kepasrahan dan kesadaran bahwa kita
selalu perlu ampunan. Sebab selalu saja kita melakukan salah dan keliru. Sebab
selalu saja kita berlagak sombong dan berbuat dosa. Ketulusan dan keikhlasan
itulah kekuatannya, sebab sebanyak apapun amal kita tak akan mencukupi untuk
membayar kebaikan Allah.
Bila sudah begini, masih pantasakah
ada angkuh dan enggan di dalam hati?. Bila seperti itu masalahnya, Apa yang
membuat kita meresa tidak membutuhkan istighfar?. Bukankan esensi dari
setentram lahir dan batin manusia adalah karena mendapat ampunan dan ridla
Allah?.
Istighfar adalah perlambang
ketundukan, kepasrahan, pengakuan, kekerdilan, kelemahan seorang hamba di
hadapan Allah SWT dan semua itu yang akan men datangkan kasih sayang dan cinta
Allah.
Cinta dan kasih sayang Allah SWT itu
bercermin jelas dalam hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Anas bin
Malik ra : ”Sesungguhnya Allah lebih suka menerima taubat seorang hambaNya
melebihi kesenangan seorang yang menemukan kembali secara tiba-tiba untanya
yang telah hilang dari padanya di tengah hutan”. (HR. Bukhari-Muslim).
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan
: “Salah satu sebab paling besar dari kesempitan hati adalah menjauh dari Allah
dan lalai dari berdzikir kepada Allah!”. Karena itu menurutnya, ada tiga jenis
hati, yakni hati yang sakit, hati yang kasat, dan hati yang bersih dari
penyakit. Dua hati yang disebutkan di awal tadi terKotori oleh asap kemaksiatan
yang terus menerus bertumpuk. Sedangkan hati yang ketiga adalah hati yang
selamat. “Itu adalah hati yang sehat dan selamat, tidak ada yang memisahkan
penerimaan terhadap kebenaran, kecintaan pada kebenaran, dan tunduk kepada
kebenaran !”.
Istighfar menjadikan hati lebih
putih, lebih bersih dan berkilau. Kondisi ini akan dirasakan saat seseorang
melakukan banyak dosa dan kemaksiatan, lalu hatinya menjadi kasar dan legam
karena dosa. Hati yang kasar, kesat, dan legam pasti tercermin pada kesempitan
hati, kegundahan, kerisauan pikiran, kebingungan, kekacauan dalam pikiran.
Allah SWT memberikan dua pelindung
pada hambaNya jika mereka tetap memelihara istighgfar dan bertekad untuk
meninggalkan kemaksiatan.
Berkata Abu Musa Al Asy’ari :
“Kalian memiliki dua pengaman dari Allah SWT, sebagaimana firmanNya dalam surat
al-Anfal ayat 33 :
وَمَا كَانَ
اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ
يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah
sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka.
Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta
ampun”.
Jadi jelasnya, apa yang kita
inginkan dan pinta kepada Allah SWT, lakukanlah dengan perbanyak istighfar.
Istighfar adalah kebutuhan yang terus berkelanjutan karena setiap orang takkan
pernah habis daftar kebutuhannya dalam hidup ini. Karenanya, setiap orang
secara terus menerus membutuhkan istighfar. Istighfar mengandung banyak
kebaikan, menyingkir bahaya, menambah kekuatan amal hati dan badan serta
keyakinan iman.
Dengan demikian, kita perlu sangat
waspada. Terutama terhadap aneka kenikmatan yang tengah kita reguk. Baik
kenikmatan berupa rizki, anak maupun kesehatan. Teliti dan koreksilah lagi
rahmat dan karunia yang Allah berikan tersebut. Apakah telah kita pergunakan
dengan sebaik-baiknya menurut apa yang telah digariskan oleh syari’at agama
ataukah kita nikmati sendiri dengan kenikmatan yang sebebas-bebasnya.
Ingat bahwa segala macam kenikmatan
yang bersifat duniawi adalah ujian. Jangan sampai kenikmatan yang selama ini
kita reguk, ternyata merupakan istijraj, akni pemanjaan dari Allah yang
membinasakan. Ingat pula bahwa orang yang sedang dimanjakan oleh Allah,
kemudian Dia tidak memberinya petunjuk sedikitpun, maka celakalah orang
tersebut.
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar